Cara Menyusun Safety Plan Dalam Lingkungan Kerja

 

safetyplan
Source : Google Image

Keselamatan kerja merupakan hal yang sangat penting, bahkan harus jadi prioritas dalam menjalankan pekerjaan. Ini berlaku terutama pada karyawan yang punya pekerjaan berisiko tinggi, seperti disektor pertambangan, konstruksi, manufaktur, dan sejenisnya. Apalagi untuk yang bekerja di Ruang Terbatas atau Confined Space.

Oleh karenanya, perusahaan perlu untuk memiliki rencana yang mumpuni tentang keselamatan kerja. Berikut ini merupakan 10 langkah dalam menciptakan program keselamatan kerja.

1Memahami Implikasi Regulasi

Perusahaan harus memahami regulasi terbaru dari pemerintah, dan mengerti implikasinya terhadap perusahaan, yang biasanya akan berbeda. Untuk memastikan bahwa aturan perusahaan sesuai dengan UU yang ada, maka perusahaan dapat memanfaatkan jasa konsultan safety.

2Assessment

Lakukan assessment mengenai setiap area kerja. Identifikasi lokasi-lokasi mana saja yang rawan terhadap kecelakaan kerja, lalu identifikasi juga beberapa area mana saja yang berisiko untuk terjadi kecelakaan. Selanjutnya, cari juga alasan-alasan apa sajakah yang bisa mengakibatkan kecelakaan dan resiko kecelakaan tersebut . Prioritaskan area yang punya resiko terbesar.

3Customized Plan

Setelah mengidentifikasi dan mengukur resiko, kemudian saatnya untuk menyusun safety plan. Safety plan ini berbeda-beda untuk setiap area, fasilitas, gedung, perlengkapan, proses, ataupun staf. Buat safety plan yang customized, namun tetap sesuai dengan standard regulasi keselamatan kerja. Kemudian jadikan tiap orang dalam organisasi mempunyai peran dan tanggung jawab dalam safety plan itu. Hal ini penting agar semua karyawan sadar akan pentingnya keselamatan kerja.

4Written

Setelah merancang rencana yang solid, maka dokumentasikan secara tertulis tentang program-program safety apa sajakah yang akan dilakukan. Seluruh rencana harus ditulis, mulai dari rencana kontrol, rencana darurat, rencana komunikasi, dan lainnya. Hal ini perlu agar rencana jelas, tak ada yang simpang siur dan Karyawan atau Pekerja menaati dan mengerti mengenai sosialisasi yang sudah direncanakan karena sosialisasi tentang Safety itu sangat penting.

5Training

Setelah semua rencana dan prosedur safety sudah didokumentasikan dengan baik, maka selanjutnya adalah saat untuk membawanya ke dunia nyata. Lakukan training agar karyawan terbiasa dan tidak kagok dalam menjalankan safety plan. Tetapi jangan lakukan training sesekali saja, melainkan harus secara periodik, atau karyawan akan lupa. Seringkali perusahaan hanya sesekali mengadakan training, hingga ketika safety plan diperlukan, kemudian implementasinya jadi tidak lancar.

6Insentif

Untuk memotivasi karyawan agar mau mematuhi safety plan, maka sertakan safety plan sebagai penilaian kinerja, lalu berikan insentif khusus. Untuk karyawan yang mau mengimplementasikan safety plan dalam pekerjaannya sehari-hari, pasti penilaian kinerjanya lebih baik, dan terdapat insentif tambahan untuk itu. Tanpa insentif, maka karyawan akan malas untuk mengadopsi aturan baru ini.

7Sederhana

Buat safety plan yang simpel, sehingga mudah dipahami oleh seluruh karyawan. Ini penting agar karyawan dapat menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari. Bila kompleks dan sulit dipahami, siapa yang mau mengerjakannya? Lalu simpan mengenai dokumentasi safety plan ini dalam tempat yang mudah dijangkau oleh seluruh karyawan. Berikan mereka akses langsung pada dokumentasi ini. Mudahnya, simpan dokumentasi manual itu secara online.

8Sistem Pelaporan Jelas

Buat sistem pelaporan yang jelas tentang insiden ditempat kerja. Sehingga, semua insiden dapat tercatat dengan baik dan langsung ditangani lebih lanjut. Buat sistem yang simpel dan mudah digunakan, juga mudah diakses oleh seluruh karyawan.

9Hotline

Buat safety hotline yang selalu bersedia jadi tempat karyawan untuk mengajukan pertanyaan terkait safety, untuk kemudian memperoleh respon dengan cepat. Sehingga, karyawan yang masih bingung tentang prosedur yang harus dilakukannya, atau punya pertanyaan tertentu dapat langsung menghubungi hotline.

10Partisipasi Karyawan

Baik dalam meningkatkan safety plan ataupun mengimplementasikannya, libatkan karyawan. Dengan demikian, karyawan juga turut merasa memiliki program tersebut, tidak hanya wajib melakukannya. Hanya dengan sense of belonging itu, hasil yang memuaskan dapat dicapai.

Di Indonesia, masalah keselamatan kerja diatur dalam UU No. 1/1970, regulasi yang diterbitkan sekitar empat dasawarsa lalu. Terdapat perdabatan tentang apakah kerangka peraturan itu cukup memadai untuk melindungi pekerja. ILO (International Labour Organization) mengusulkan agar UU No. 1/1970 ini direvisi dan sesuai dengan perkembangan terakhir, sehingga sesuai dengan beberapa ketentuan dalam Konvensi ILO No. 155/1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Di perusahaan-perusahaan besar, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja kini sudah diwajibkan. Selain itu, Indonesia juga sudah punya pusat penyimpanan informasi K3 yang bisa diakses melalui ASEAN OSHNET, atau jejaring kerja di sektor Keselamatan dan Kesehatan Kerja antara negara-negara ASEAN.

SHARE

LEAVE A REPLY