Mengenal Penyakit dan Klasifikasi Penyakit Akibat Kerja

mengenal penyakit dan klasifikasi penyakit akibat kerjaKlasifikasi Penyakit Karena Bekerja

mengenal penyakit dan klasifikasi penyakit akibat kerja – Dalam melakukan pekerjaannya di perusahaan seseorang atau sekumpulan pekerja beresiko mendapatkan kecelakaan atau penyakit karena kerja. WHO memperbedakan empat kelompok Penyakit Karena Kerja, yakni:

  1. Penyakit yang hanya dipicu oleh pekerjaan, contohnya Pneumoconiosis.
  2. Penyakit yang salah satu sebabnya ialah pekerjaan, contohnya Karsinoma Bronkhogenik.
  3. Penyakit dengan pekerjaan adalah salah satu pemicu antara beberapa faktor pemicu yang lain, contohnya Bronkhitis khronis.
  4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat satu kondisi yang telah ada sebelumnya, contohnya asma.

Beberapa macam penyakit pneumoconiosis yang banyak didapati di wilayah yang mempunyai banyak kegiatan industri serta teknologi, yakni:

a. Penyakit Silikosis

Penyakit Silikosis dipicu oleh pencemaran debu silika bebas, berbentuk SiO2 yang terhisap masuk ke paru-paru dan mengendap. Debu silika bebas ini terdapat banyak di pabrik besi serta baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang kerjakan besi (mengikir, menggerinda, dan lain-lain). Tidak hanya dari itu, debu silika juka terdapat banyak dalam tempat di tempat penampang bijih besi, timah putih serta tambang batubara.

Penggunaan batubara sebagai bahan bakar banyak juga menghasilkan debu silika bebas SiO2. Saat dibakar, debu silika akan keluar serta terdispersi ke udara bersama – sama juga dengan partikel yang lain, seperti debu alumina, oksida besi serta karbon berbentuk abu.
Debu silika yang masuk ke paru-paru akan mengalami waktu inkubasi kurang lebih 2 sampai 4 tahun. Waktu inkubasi ini semakin lebih pendek, atau tanda-tanda penyakit silicosis akan segera terlihat, jika konsentrasi silika di udara lumayan tinggi serta terhisap ke paru-paru dalam jumlahnya banyak. Penyakit silicosis diikuti dengan sesak nafas yang diikuti batuk-batuk. Batuk ini sering tidak disertai dengan dahak. Pada silicosis tingkah sedang, tanda-tanda sesak nafas yang diikuti tampak serta pada kontrol fototoraks kelainan paru-parunya mudah sekali dilihat.

Jika penyakit silicosis telah berat karena itu sesak nafas akan makin kronis dan disertai dengan hipertropi jantung samping kanan yang akan menyebabkan kegagalan kerja jantung.

Tempat kerja yang mungkin untuk tercemari oleh debu silika butuh mendapatkan pengawasan keselamatan serta kesehatan kerja serta lingkungan yang ketat karena penyakit silicosis ini belumlah ada obatnya yang tepat. Tindakan mencegah lebih penting serta berarti dibanding dengan tindakan pengobatannya. Penyakit silicosis semakin lebih buruk jika pasien sebelumnya juga menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis, astma broonchiale serta penyakit saluran pernafasan yang lain.

Pengawasan serta kontrol kesehatan dengan periodik bagi pekerja akan membantu mencegah serta penanggulangan beberapa penyakit karena kerja. Data kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja serta setelah bekerja butuh dicatat untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja jika pada saat – waktu dibutuhkan.

b. Penyakit Asbestosis

Penyakit Asbestosis ialah penyakit karena kerja yang dipicu oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes ialah kombinasi dari beberapa jenis silikat, tetapi yang paling penting ialah Magnesium silikat. Debu asbes banyak didapati pada pabrik serta industri yang memakai asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik beratap asbes dan lain-lain.

Debu asbes yang terhirup masuk ke paru-paru akan menyebabkan tanda-tanda sesak napas serta batuk-batuk yang diikuti dengan dahak. Ujung-ujung jari penderitanya akan terlihat membesar / melebar. Jika dilakukan pengecekan pada dahak maka terlihat adanya debu asbes dalam dahak itu. Penggunaan asbes untuk berbagai jenis kepentingan kiranya perlu disertai dengan kesadaran akan keselamatan serta kesehatan lingkungan agar jangan sampai menyebabkan asbestosis ini.

c. Penyakit Bisinosis

Penyakit Bisinosis ialah penyakit pneumoconiosis yang dipicu oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang setelah itu terhisap ke paru-paru. Debu kapas atau serat kapas ini banyak didapati pada pabrik pemintalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan serta pergudangan kapas dan pabrik atau kerja lain yang memakai kapas atau tekstil; seperti tempat pengerjaan kasur, pengerjaan jok kursi dan lain-lain.

Waktu inkubasi penyakit bisinosis lumayan lama, yakni kurang lebih 5 tahun. Pertanda awal penyakit bisinosis ini berbentuk sesak napas, berasa berat pada dada, khususnya di hari Senin (yakni hari awal kerja pada tiap minggu). Dengan psikis tiap hari Senin kerja yang menanggung derita penyakit bisinosis rasakan beban berat pada dada dan sesak nafas. Reaksi alergi karena terdapatnya kapas yang masuk ke saluran pernafasan adalah tanda-tanda awal bisinosis. Pada bisinosis yang telah lanjut atau berat, penyakit itu umumnya disertai dengan penyakit bronchitis akut serta mungkin saja diikuti dengan emphysema.

d. Penyakit Antrakosis

Penyakit Antrakosis ialah penyakit saluran pernafasan yang dipicu oleh debu batubara. Penyakit ini umumnya ditemui pada pekerja-pekerja tambang batubara atau pada pekerja-pekerja yang banyak menyertakan pemakaian batubara, seperti pengumpa batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker) dan pada kapal laut bertenaga batubara, dan pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap memiliki bahan bakar batubara.

Waktu inkubasi penyakit ini di antara 2 – 4 tahun. Seperti dalam penyakit silicosis dan beberapa penyakit pneumokonisosi yang lain, penyakit antrakosis diikuti adanya rasa sesak napas. Sebab pada debu batubara kadang ada debu silikat karena itu penyakit antrakosis seringkali diikuti dengan penyakit silicosis. Jika ini berlangsung karena itu penyakitnya disebutkan silikoantrakosis. Penyakit antrakosis ada tiga jenis, yakni penyakit antrakosis murni, penyakit silikoantraksosis serta penyakit tuberkolosilikoantrakosis.

Penyakit antrakosis murni dipicu debu batubara. Penyakit ini memakan waktu yang lumayan lama menjadi berat, serta relatif tidak begitu beresiko. Penyakit antrakosis jadi berat jika diikuti dengan komplikasi atau emphysema yang sangat mungkin berlangsungnya kematian. Jika berlangsung emphysema karena itu antrakosis murni lebih berat dibanding silikoantraksosis yang relatif jarang-jarang disertai oleh emphysema.

Sebenarnya di antara antrakosis murni serta silikoantraksosi sulit dibedakan, terkecuali dari sumber penyebabnya. Sedang penyakit tuberkolosilikoantrakosis lebih gampang dibedakan dengan ke-2 penyakit antrakosis yang lain. Perbedaan ini mudah disaksikan dari fototorak yang tunjukkan kelainan pada paru-paru karena terdapatnya debu batubara serta debu silikat, dan terdapatnya baksil tuberculosis yang menyerang paru-paru.

e. Penyakit Beriliosis

Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berbentuk logam murni, oksida, sulfat, atau berbentuk halogenida, bisa mengakibatkan penyakit saluran pernafasan yang disebutkan beriliosis. Debu logam itu bisa mengakibatkan nasoparingtis, bronchitis serta pneumonitis yang diikuti dengan tanda-tanda dikit demam, batuk kering serta sesak napas. Penyakit beriliosis bisa muncul pada pekerja-pekerja industri yang memakai logam kombinasi berilium, tembaga, pekerja pada pabrik fluoresen, pabrik pengerjaan tabung radio dan pada pekerja pemrosesan bahan pendukung industri nuklir.

Tidak hanya dari itu, pekerja-pekerja yang banyak memakai seng (berbentuk silikat) dan mangan, dapat mengakibatkan penyakit beriliosis yang tertunda atau delayed berryliosis yang disebutkan dengan beriliosis akut. Dampak tertunda ini dapat berselang 5 tahun sesudah berhenti hirup udara yang tercemar oleh debu logam itu. Jadi lima tahun sesudah pekerja itu tidak ada di lingkungan yang memiliki kandungan debu logam itu, penyakit beriliosis mungkin muncul. Penyakit ini diikuti dengan tanda-tanda mudah capek, berat badan yang alami penurunan serta sesak napas. Oleh karenanya pemeriksaan kesehatan dengan periodik bagi pekerja-pekerja yang terjebak dengan pekerja yang memakai logam itu perlu dikerjakan terus – menerus.

Penyakit Karena Bekerja

Mengenai beberapa penyakit akibat kerja, diantaranya:

a. Penyakit Saluran Pernapasan

PAK pada saluran pernapasan bisa berbentuk kronis atau akut. Kronis contohnya asma karena kerja. Seringkali didiagnosis jadi tracheobronchitis kronis atau sebab virus. Akut, missal: asbestosis. Seperti tanda-tanda Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Edema paru kronis. Bisa dipicu oleh bahan kimia seperti nitrogen oksida.

b. Penyakit Kulit

Biasanya tidak detil, merepotkan, tidak meneror kehidupan, terkadang pulih sendiri. Dermatitis kontak yang dilaporkan, 90% adalah penyakit kulit yang terkait dengan pekerjaan. Penting riwayat pekerjaan dalam mengidentifikasi iritan yang disebut pemicu, membuat peka atau sebab aspek lain.

c. Kehancuran Pendengaran

Banyak masalah masalah pendengaran menunjukan karena pajanan kebisingan yang lama, ada banyak masalah bukan dikarenakan pekerjaan. Riwayat pekerjaan dengan detil semestinya didapat dari tiap orang dengan masalah pendengaran. Dibuat referensi mengenai pencegahan berlangsungnya hilangnya pendengaran.

d. Tanda-tanda pada Punggung serta Sendi

Tidak ada tes atau mekanisme yang bisa memperbedakan penyakit pada punggung yang terkait dengan pekerjaan dibanding yang tidak terkait dengan pekerjaan. Penetapan peluang tergantung pada riwayat pekerjaan. Artritis serta tenosynovitis dipicu oleh pergerakan berulang-ulang yang tidak lumrah.

e. Kanker

Terdapatnya persentase yang relevan memberikan masalah Kanker yang dipicu oleh pajanan dalam tempat kerja. Bukti jika bahan dalam tempat kerja, karsinogen seringkali didapatkan dari laporan klinis individu daripada studi epidemiologi. Pada Kanker pajanan untuk berlangsungnya karsinogen mulai > 20 tahun sebelum analisis.

f. Coronary Artery Disease

Oleh sebab depresi atau Carbon Monoksida serta bahan kimia lain dalam tempat kerja.

g. Penyakit Liver

Seringkali di analisis jadi penyakit liver oleh sebab hepatitis virus atau sirosis sebab alkohol. Penting kisah mengenai pekerjaan, dan bahan toksik yang ada.

h. Permasalahan Neuropsikiatrik

Permasalahan neuropsikiatrik yang terkait dengan tempat kerja seringkali diacuhkan. Neuro pati perifer, seringkali dihubungkan dengan diabet, penggunaan alkohol ataukah tidak didapati sebabnya, stres SSP oleh sebab penyimpangan beberapa zat atau permasalahan psikiatri. Tingkah laku yang tidak baik mungkin adalah tanda-tanda awal dari depresi yang terkait dengan pekerjaan. Lebih dari 100 bahan kimia (a.I solven) bisa mengakibatkan stres SSP. Beberapa neurotoksin (terhitung arsen, timah, merkuri, methyl, butyl ketone) bisa mengakibatkan neuropati perifer. Carbon disulfide bisa mengakibatkan tanda-tanda seperti psikosis.

i. Penyakit yang Tidak Didapati Penyebabnya

Alergi serta masalah keresahan mungkin terkait dengan bahan kimia atau lingkungan. Sick building syndrome. Multiple Chemical Sensitivities (MCS), mis: minyak wangi, derivate petroleum, rokok.

Tindakan Pencegahan

Pengurus perusahaan selalu harus waspada terdapatnya intimidasi karena kerja pada pekerjaannya.

  • Kewaspadaan itu dapat berbentuk :
  • Lakukan mencegah pada timbulnya penyakit
  • Lakukan deteksi awal pada ganguan kesehatan
  • Membuat perlindungan tenaga kerja dengan ikuti program agunan sosial tenaga kerja seperti yang di mengatur oleh UU RI No.3 Tahun 1992.
  • Tahu kondisi pekerjaan serta kondisinya bisa jadi satu diantara mencegah pada PAK.

Beberapa panduan dalam menahan PAK, salah satunya:

  • Gunakanlah APD dengan benar serta teratur
  • Ketahui efek pekerjaan serta hindari agar tidak terjadi lebih lanjut.
  • Selekasnya akses tempat kesehatan paling dekat jika terjadi cedera yang berkepanjangan.

Selain itu ada beberapa pencegahan lain yang bisa ditempuh agar kerja bukan jadi tempat untuk menuai penyakit. Hal itu berdasar Buku Pengantar Penyakit Karena Kerja, salah satunya:

1. Mencegah Primer – Health Promotion

  • Tingkah laku Kesehatan
  • Aspek bahaya dalam tempat kerja
  • Tingkah laku kerja yang baik
  • Olahraga
  • Gizi imbang

2. Mencegah Sekunder – Specifict Protection

  • Pengaturan lewat perundang-undangan
  • Pengaturan administrative/organisasi: rotasi/penetapan jam kerja
  • Pengaturan teknis: subtitusi, isolasi, ventilasi, alat pelindung diri (APD)
  • Pengaturan jalur kesehatan: imunisasi

3. Mencegah Tersier

  • Early Analisis and Prompt Treatment
  • Kontrol kesehatan pra-kerja
  • Kontrol kesehatan periodik
  • Surveilans
  • Kontrol lingkungan dengan periodik
  • Penyembuhan segera jika diketemukan gangguan pada pekerja
  • Pengaturan segera dalam tempat kerja

Kondisi fisik sehat serta kuat benar-benar diperlukan dalam kerja, tetapi dengan kerja benar teratur bukan bermakna bisa menahan kesehatan kita terganggu. Kepedulian serta kesadaran akan jenis pekerjaan kondisi pekerjaan bisa menyingkirkan sumber penyakit menyerang. Dengan di dukung perusahaan yang sadar kesehatan, karena itu kantor akan benar-benar jadi tempat menuai hasil bukan penyakit.

Perawatan serta penyembuhan

Dalam lakukan penanganan pada penyakit karena kerja, bisa dikerjakan dua macam terapi, yakni:

  • Therapy medikamentosa Yakni therapy dengan obat obatan :
  • Pada kausal (jika mungkin)
  • Biasanya penyakit kerja ini berbentuk irreversibel, hingga therapy seringkali hanya dengan simptomatis saja. Contohnya pada penyakit silikosis (irreversibel), therapy hanya menanggulangi sesak nafas, nyeri dada2.
  • Therapy okupasia
  • Pindah ke bagian yang tidak terpapar
  • Kerjakan metode kerja yang sesuai kemampuan fisik
SHARE