Praktek Keselamatan di Area Timbunan

Source : Google Image

Selain dari faktor kondisi tidak aman di area timbunan (disposal), faktor dari perilaku operator unit truk juga sangat berperan besar terhadap terjadinya kecelakaan. Ada beberapa hal yang sering dilakukan oleh operator truk di area waste dump, salah satunya yaitu menjadikan windrow sebagai ganjal atau stoper, melakukan manuver tidak searah jarum jam, memposisikan unit miring tidak lurus dengan garis tepi atau tanggul, tidak melakukan komunikasi dengan unit truk atau unit produksi lainnya.

Perilaku-perilaku seperti ini dapat berpotensi mengakibatkan terjadinya kecelakaan seperti bertabrakan dengan unit lain, maupun jatuh ke dasar timbunan. untuk mengurangi potensi terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh adanya beberapa praktek tidak aman yang dilakukan di area timbunan (disposal), berikut hal yang dapat dilakukan oleh operator unit truk :

1Gunakan windrow hanya sebagai acuan

Tanggul pengaman di area timbunan (windrow) di buat dengan tujuan untuk memberikan tanda atau info kepada operator truk mengenai keberadaan tepi atas timbunan (crest disposal). Sehingga operator dapat mengetahui dimana posisi tepi timbunan, untuk mengantisipasi unit terperosok ke area yang lebih rendah atau dasar timbunan. Jangan pernah menggunakan windrow untuk membantu memberhentikan unit truk (stopper) meskipun hanya sesekali, pengereman mendadak dengan ditambah beban berat dari unit dan muatan akan membuat tanggul tidak dapat menahan beban. Hal ini dapat menyebabkan unit tergelincir ke dasar timbunan. Operator harus menggunakan windrow hanya sebagai acuan di mana harus melakukan pemberhentian, bukan untuk menahan ban sat berhenti atau bahkan menaiki tanggul.

2Jaga agar area dumping tetap datar

Source : Google Image

Kemiringan area untuk membuang muatan (dump area) harus dijaga agar tetap rata atau miring ke arah depan dengan sudut kemiringan yang tidak terlalu terjal. Hal semacam ini akan sangat membantu unit dalam melakukan kegiatan membuang muatan. Ada beberpa keuntungan yang dapat diperoleh salah satunya :

  • Membantu driver atau operator unit dalam memposisikan unit di dumping point
  • Membantu unit mudah untuk evakuasi ketika terjadi masalah yg tidak diinginkan seperti longsor, amblas, dan sebagainya.
  • Akan membantu menjaga area dumping tetap terjaga aliran air permukaannya, sehingga dumping point akan tetap kering.

Menjaga kemiringan dumping point dari sisi ke sisi, dan menjaga agar tak ada material yang lunak akan mencegah terjadinya truk terbalik saat membuang muatan. hal semacam ini menjadi masalah utama di area timbunan, di mana banyak sekali kita jumpai material yang lunak.

Source : Google Image

3Posisikan unit tegak lurus, bukan menyudut

Source : Google Image

Memposisikan unit dengan tidak tegak lurus pada tanggul pengaman (windrow) akan sangat berpotensi mengakibatkan kecelakaan. Ketika melakukan manuver mundur menuju tepi timbunan, bila dilakukan dengan miring (tidak tegak lurus) akan menyebabkan salah satu sisi ban lebih dulu mencapai tepi.

Bila kita lihat pada gambar diatas (unit sebelah kanan yang miring), ban belakang unit sebelah belakang akan lebih dulu mencapai tepi. Sementara kecenderungan driver akan melihat posisi unit melalui spion terdekat dengan posisi driver yaitu spion sebelah kiri. Hal semacam ini akan memebabkan tidak terkontrolnya posisi ban sebelah kanan.

Ada beberapa potensi bahaya yang dapat timbul pada kegiatan di area timbunan (diaposal), salah satunya yaitu :

1. Keterbatasan penglihatan saat malam hari

Pekerjaan pada malam hari sangat berpotensi mengakibatkan kecelakaan pada pekerja, selain karena potensi fatigue yang sangat besar juga di pengaruhi oleh keterbatasan penglihatan. Pekerjaan di area disposal pada dasarnya memiliki resiko yang sangat tinggi dikarenakan jenis material yang sudah lepas, jenjang yang tinggi, dan keterbatasan penglihatan. Pada malam hari sangat sulit untuk mengidentifikasi kondisi area timbunan, apakah kondisi lunak, kondisi bergelombang, maupun ada retakan.

Beberapa kecelakaan yang menyebabkan unit sarana terlindas oleh truk besar (HD/OHT) terjadi pada malam hari yang disebabkan oleh terbatasnya pandangan atau penglihatan. Untuk mengurangi adanya bahaya akibat kurangnya penglihatan (poor visibility), maka perlu disediakan penerangan/pencahayaan yang cukup sehingga kondisi berbahaya seperti retakan, windrow, dan potensi bahaya lainnya dapat teridentifikasi pada malam hari.

2. Kabel bertegangan listrik

Kemajuan tambang akan memerlukan area yang luas untuk timbunan (disposal), hal semacam ini biasanya dapat mengakibatkan arah penimbunan menuju atau melewati jalan raya atau jalan lain yang di atasnya terdapat instalasi listrik bertegangan tinggi. Potensi bahaya dapat timbul ketika unit truk mengangkat bak (vessel) untuk membuang muatan, ujung vessel dapat menyentuh kabel bertegangan listrik. mengingat material pembuat unit truk yaitu konduktor, maka potensi operator tersengat listrik sangat besar.

Langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk mengurangi potensi unit truk terkena kabel bertegangan listrik yaitu dengan memilih area timbunan yang jauh dari instalasi listrik. Bila hal semacam ini tidak dapat dihindari, maka memerlukan kontrol yang memastikan potensi kecelakaan dapat dikurangi atau ditiadakan, salah satunya dengan memastikan tinggi kabel melebihi tinggi vessel saat diangkat, memberi tanda agar kabel dapat mudah dilihat oleh operator, memberi tanda batas area yang diperbolehkan dumping, dan menggunakan orang untuk mengarahkan (spotter)

3. Dumping diatas air atau lumpur

Area timbunan yang sangat berisiko tinggi bila yaitu area timbunan diatas air atau diatas lumpur, material timbunan akan rentan terjadi retakan maupun longsor. Penimbunan diatas air biasanya terjadi pada penimbunan area bekas tambang (in pit dump), yang biasanya sangat dalam (kedalaman 20 meter). Hal semacam ini dapat mengakibatkan unit truk terperosok pada tepi timbunan dan masuk pada kedalaman air.

Beberapa kasus kecelakaan yang menyebabkan fatal terjadi akibat terperosoknya unit truk didalam air karena penimbunan diatas air maupun diatas lumpur. Operator terperangkap dalam unit pada kedalaman air atau terjebak dalam lumpur. Sehingga sulit keluar dan kehabisan oksigen.

Untuk menghindari hal semacam ini perlu identifikasi bahaya dan kajian teknis terkait penentuan jarak aman dumping dari pinggir tebing timbunan, selain itu juga memerlukan prinsip dan kesadaran dari operator yang bekerja di area itu, pengawas harus rutin memeriksa area timbunan untuk mengidentifikasi potensi bahaya lebih cepat.

SHARE

LEAVE A REPLY